Abdul Latif, Ubah Sampah Menjadi Cuan dengan Aplikasi Kepul
| qoutes pada postingan Instagam Kepul |
"Ancaman terbesar bagi planet kita adalah keyakinan bahwa orang lain akan menyelamatkannya." ~Robert Swan, seorang penjelajah dan Aktivis Lingkungan
Pagi itu di bulan Juli harusnya menjadi momen paling bahagia bagi saya, berusaha menghidu oksigen sebanyak-banyaknya supaya bisa sepenuhnya diedarkan ke seluruh tubuh dan mendapatkan momen pagiku cerahku. Namun faktanya malah menjadi angan belaka, saat saya menyaksikan sendiri seorang lelaki yang berusia sekitar separuh baya membuang sampah tanpa merasa bersalah ke Sungai Deli. Semakin teriris hati setelah menyadari bahwa lelaki itu ternyata mengenakan seragam cokelat dan rasanya seolah tak percaya saja gitu. Jembatan Brayan menjadi saksi bisu akan ulah tangan-tangan yang tak bertanggung jawab. Saya yakin sekali dari banyaknya sampah yang bertengger di pinggir sungai menunjukkan bahwa pelakunya bukan hanya satu orang belaka.
Belum lagi, kadangkala kalau sudah banjir. Seringkali warga pinggir Sungai Deli mengeluh karena air tengah meluap. Meskipun faktor utamanya karena kurangnya daerah resapan air, tapi sampah juga menjadi kontribusi memperburuk keadaan yang ada.
Masalah sampah muncul karena jumlah sampah meningkat setiap harinya seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Menurut Guerro et al, selain volume sampah yang meningkat. Faktor lain yang menyebabkan masalah sampah di negara berkembang adalah kurangnya pemahaman terkait dengan pengelolaan sampah yang baik di segala aspek.
Berdasarkan data SIPN (Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional) pada tahun 2024, tercatat timbulan sampah dari 328 kabupaten/kota mencapai kurang lebih hampir 35 juta ton/tahun. Hanya sekitar 31,82 % yang berhasil ditangani pengelolaannya dan 66,78 % dari timbulan tersebut masih sepenuhnya belum terkelolah.
| Sumber gambar : Media Indonesia |
Apalagi sejarah pernah mencatat kisah tragedi sampah yang meledak di TPA Leuwigajah, kota Cimahi, Jawa Barat akibat gas metana pada 21 Februari 2005. Dampak dari targedi itu memicu longsor dan mengakibatkan korban Jiwa sebanyak 157 orang tewas. Tentunya hal ini tidak ingin terulang lagi bagi kita. Sampah bukanlah tanggung jawab satu orang, tetapi juga kita bersama.
Abdul Latif, Berawal dari Sebuah Keberanian
Tak banyak orang berani menatap tumpukan sampah dan melihat masa depan apa di dalamnya. Abdul Latif Wahid Nasution, seorang pemuda asaal Lubuk Pakam, Deli Serdang justru menemukan sebuah ide brilian di balik kekumuhan itu.
![]() |
| Abdul Latif Wahid Nasution, sumber gambar Kompas : Mohamma Hilmi Faiq |
Semuanya bermula di tahun 2017, saat itu ia masih menjadi mahasiswa Teknologi Informasi di Universitas Sumatera Utara. Ia melihat bahwa sampah bukan hanya tentang urusan kebersihan belaka yang lenyap dari pandangan, tetapi juga persoalan ekonomi dan sosial. Apalagi kebiasaannya sejak kecil adalah menyimpan sampahnya sendiri ketika berada di luar apabila belum menemukan tempat pembuangan sampah. Kebiasaan baik, akan kepedulian kebersihan lingkungan sudah melekat dalam dirinya.
Berbekal kemampuan bidang ilmu yang ia miliki. Bersama dengan timnya. Latif membuat sebuah Aplikasi Kepul yang disingkat dari Kepedulian Lingkungan (Kepul) dan pertama kali diluncurkan sebagai situs web pada 11 Maret 2018. Kemudian versi aplikasinya (seluler) resmi diluncurkan sekitar Oktober 2018.
Banyak warga sebenarnya mau memilah dan menjual sampah. Namun tak tahu harus menyalurkannya ke mana. Sementara di sisi lain, pengepul sering kesulitan mendapatkan pasokan sampah berkualitas. Kesenjangan itu membuat rantai daur ulang berjalan lambat. Hal itulah yang mendorong Latif sebagai founder bersemangat dalam mengembangkan Aplikasi Kepul.
Sejak pandemi, kumunculan Kepul menjadi Populer di tahun 2020. Orang-orang tak perlu repot untuk datang ke Pengepul. Sebab dari pihak driver Kepul sendiri yang akan mengambilnya dari rumah warga.
Perusahaan Kepul sendiri kini bernama PT Indonesia Bebas Sampah yang terletak di Jl. Mesjid Ps. Iv Tj. Gusta, Kec. Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara 20116
Kepu.Id Aplikasi Penghubung Warga Kepada Pengepul
| Driver Kepul menjemput sampah dari rumah warga. Sumber Gambar : Youtube Kepul |
Berdasarkan wawancara Latif di Youtube Kasih Solusi, ia bercerita bahwa pemilahan sampah memang harus di rumah. Sampah yang sudah ditumpuk di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sudah tidak mungkin lagi untuk dibongkar apalagi dipisah-pisahkan karena setiap harinya sampah terus berdatangan. Maka sampah memang lebih baik dipisahkan dari rumah sebelum nanti akan dijual.
Kategori Sampah yang Bisa Dijual
Sampah yang diterima di aplikasi kepul adalah sampah yang bisa didaur ulang. Mereka tidak bisa menerima sampah B3 (Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun) serta sampah medis. Setiap sampah memiliki harga yang berbeda-beda. Misalnya untuk kategori sampah plastik botol plastik minuman yang sekali pakai, apabila sudah dibersihkan maka harganya bisa lebih mahal dibandingkan sampah yang belum dibersihkan/dipisahkan dari plastik merek. Meskipun plastik merek sebenarnya yang membuat produk menjadi mahal sehingga orang ingin membeli. Justru ketika menjadi sampah tidak memiliki nilai jual kembali di pabrik. Kecuali jika memang ada yang mau menampung.
| Aplikasi Kepul yang menghubungkan warga dengan pengepul |
Setelah semua sampah dipisahkan, lanjut upload foto di aplikasi kepul, kemudian isi data yang dibutuhkan seperti jenis sampah serta data, nomor rekening, alamat penjemputan, dan lain-lain. Nanti ketika mereka datang, mereka yang akan menimbang sampahnya.
| driver Kepul menerima sampah daur ulang dari warga |
Sampah yang sering dijual ada kardus, minyak jelanta, kaleng bekas, botol plastik, dan buku bekas. Kemudian, pada waktu yang disepakati driver akan datang menjemput sampah. Pada aplikasi kepul sendiri, mereka menerima kurang lebih 60 jenis sampah.
Program Kepul Sedekah Sampah
Untuk kategori kalangan sosial menengah ke atas. Seringkali mereka tidak ingin menerima pembayaran dari sampah yang mereka jual. Seperti yang kita ketahui biasanya kalau kita berlangganan untuk pembuangan sampah. Warga sekitar yang membayar mereka. Namun di aplikasi kepul, justru Kepul yang membayar mereka. Maka di aplikasi kepul menerima dua versi. Satu untuk dijual, satu lagi untuk sedekah. Kalau dijual, sudah pasti uang sampah ke warga itu sendiri. Sementara untuk sedekah sampah, hasilnya akan dibagi-bagikan kepada driver supaya lebih semangat, ungkap Latif dalam wawancara.
Mitra Brand Hingga Sekolah
Saat ini Kepul sendiri berkolaborasi ke berbagai pihak. Sampah bisa ditukar sembako untuk para warga yang bekerjasama dengan toko kelontong. Kepul tidak hanya bermitra dengan para warga biasa, tetapi juga warga komplek yang biasanya tidak bisa dimasuki oleh Pengepul biasa. Adanya driver Kepul menjadi tanggung jawab mereka apabila terjadi sesuatu, semisal ada barang yang hilang dari rumah warga. Mereka pula yang akan bertanggung jawab karena ada legalitas itu sendiri.
| Hari Sekolah Bebas Sampah |
Mereka juga bekerjasama dengan pihak sekolah, di mana ada hari Sampah setiap Minggunya yang mengarahkan para siswa untuk membawa sampah. Sampahnya itu nanti bisa ditukarkan dengan minuman Susu atau Snack yang bekerjasama dengan Kepul. Selain pihak kepul mendapatkan keuntungan dari penjualan sampah juga sekalian membantu memperluas brand yang bekerjasama dengan mereka. Apalagi saat ini banyak campaign, para pengusaha kuliner yang turut menjaga Bumi. Program jual sampah di sekolah juga bisa dijadikan sebagai penambahan uang kas ataupun tabungan anak-anak.
| Sampah bisa ditukarkan menjadi bentuk yang lain berupa voucher makan |
Tidak hanya sampai di situ saja, Aplikasi Kepul juga bekerjasama kepada pihak Cafe maupun hotel yang produksi sampah mereka lebih banyak dibandingkan warga. Sampah yang sering dijual di mereka adalah minyak jelanta. Bahkan selama dua tahun mereka berjalan, Kepul berhasil mengumpulkan sebanyak 2 ton minyak jelanta yang nantinya akan diekspor ke negera lain untuk dijadikan biodiesel.
Sampah dialokasikan Kepada Pabrik yang Bisa Menampung
"Sebenarnya bisa aja sih, para warga langsung jual ke pabrik dari sampah yang mereka kumpulkan. Tapi pabrik kan nggak mau menampung kalau sedikit, demi sedikit. Sementara di kita mau berapa aja tetap diterima. Mau itu empat botol sekalipun, tetap kita angkut. Cuma nih, kalau sedikit, supaya hemat bensin, jadwal penjemputannya sekalian aja yang sedaerah itu," ucap Latif.
Tahun 2020 Mencapai 20 Karyawan
| Abdul Latif bersama dengan timnya |
Perjalanan Latif dalam membangun Aplikasi Kepul tentu tidaklah mudah. Ia pernah berjalan sendirian selama setahun. Barulah berani merekrut partner bisnisnya. Timnya yang membantu disebut sebagai co-founder. Itu pun berbekal hasil memenangkan lomba dalam membangun bisnisnya. Sebagai CEO sekaligus Founder ia juga harus memikirkan bagaimana orang-orang yang bekerjasama dengannya juga mendapatkan keuntungan. Para Co-Founder mendapat saham di sana. Saat itu, ia hanya bisa menggaji tim intinya yang berjumlah sebanyak 5 orang dengan gaji sekitar tiga jutaan. Sementara karyawan lainnya mengikuti seleksi alam.
Penerima Apresiasi Satu Indonesia Awards Tahun 2020 di Bidang Teknologi
Nama Abdul Latif tercatat sebagai daftar penerima Apresiasi Satu Indonesai Awards di tahun 2020 dengan judul Kepul (Aplikasi Jual Sampah Online) merupakan sebuah startup. Selama ia berjalan dua tahun belum ada masalah seperti saingan atau apa. Ia juga mengaku karena idenya dalam menjual sampah online ini pernah diundang ke-10 Negara untuk menyampaikan presentasi bagaimana dengan sistem kerjanya. Daya juang Latif sebagai CEO sekaligus Founder benar-benar sangat menginspirasi di tengah tawaran pekerjaan karyawan tetap seperti BUMN katanya pada saat itu. Ia justru mengambil jalannya sendiri. Awalnya yang sendirian, kini bersama berbagai pihak dalam menyelamatkan Bumi ini. Sesuai dengan moto Astra pada tema kali ini, Satukan Gerak Terus Berdampak.
Hadir di Medan, Jakarta, dan Tanggerang
Keberadaan kemitraan Kepul saat ini di tahun 2025 sudah hadir di wilayah kota Medan, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Tanggerang, dan Tanggerang Selatan. Harapannya satu Indonesia bisa menggunakan Aplikasi Kepul ini dalam mengatasi persoalan sampah daur ulang.
Kesimpulan
Persoalan sampah merupakan persoalan yang besar. Dampaknya juga bukan main-main bagi kehidupan. Abdul Latif memberikan sebuah solusi dengan persoalan sampah melalui Aplikasi Kepul yang bisa mengubah Sampah menjadi cuan. Daya juang serta cita-cita mulianya dalam mengangkat isu lingkungan, sosial, dan finansial menjadikan masyarakat sadar akan kebernilaian sampah yang bisa didaur ulang.
Sumber Referensi :
Instagram Kepul.id, https://www.instagram.com/kepul.id/
List Penerima SATU Indonesia Awards Nasional 2010-2023kepul.id
Nanda, Meutia, dkk. (2024). Analisis Pelaksanaan Program Aplikasi Kepul (Jual Beli Sampah) dalam Upaya Meningkatkan Kesadara Masyarakat terhadap Kesehatan Lingkungan Helvetia Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang. Jurnal Pengabdian Masyarakat. Vol. 4(1), 171-180. https://journal-laaroiba.com/ojs/index.php/elmujtama/article/download/411/802/6197
https://www.detik.com/jabar/berita/d-6288321/jabar-x-files-tragedi-157-warga-tewas-tertimbun-sampah-leuwigajah
Obrolan di Youtube @kasisolusi yang berjudul Jual Sampah Dapat Cuan, https://www.youtube.com/watch?v=8pTw0VDe4m8
Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional, https://sipsn.menlhk.go.id/sipsn/public
Sumber Gambar :
https://www.kompas.id/artikel/latif-menguangkan-sampah-mengatasi-masalah-kota
https://epaper.mediaindonesia.com/detail/a-7045
Youtube Kepul diakses 21 Oktober 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar